Selamat Hari Kartini
Hari Kartini
tahun ini betul-betul diwarnai dengan berbagai seminar, dimana saya dari
tanggal 20 April sudah mengisi seminar-seminar yang bertemakan Kartini. Seperti
Seminar Kartini di Musium Nasional, Dialog Perjuangan Kartini, Bakti Sosial
Pemeriksaaan Kesehatan Gratis dengan Perempuan Demokrat di Serang dan acara
Kartini yang lain.
Tapi intinya, bagaimana konsep daripada Kartini dan emansipasi itu tetap ada dalam koridor, bahwa kita sebagai perempuan tidak ingin melebihi daripada laki-laki dan ketika kita berkomitmen untuk hidup dalam keluarga, maka ada fungsi-fungsi Ibu dan Istri yang harus dilakukan. Yang sangat tidak terlupakan pada hari Kartini ini adalah Kunjungan dengan Partai saya “Perempuan Demokrat Republik Indonesia” ke wilayah Serang (Banten). Disana ada berbagai aktivitas, seperti : Pemberian Kesehatan Gratis dan saya melihat, bahwa memang kesehatan perempuan itu menjadi sesuatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan ketika perempuan dianggap sebagai pembentuk karakter anak, dalam hal ini pembentuk karakter wanita juga, sehingga tidak hanya tingkat pendidikan perempuan saja yang harus dinaikkan tetapi juga tingkat kesehatannya.
Kemudian,
melihat sekolah-sekolah yang rubuh, melihat anak-anak yang putus sekolah ini
yang menjadi satu pemikiran dan menjadi satu konsen saya dan menjadi satu
pemilihan yang berarti di hari Kartini. Disini saya melihat bahwa siapa lagi
yang akan membangun bangsa kita kecuali anak-anak? Dan untuknya harus terus diperjuangkan
nasib daripada anak-anak terutama perempuan.
Mungkin kesan
yang juga luar biasa adalah bahwa keterlibatan di dalam politik maupun di dalam
sosial budaya ataupun bisnis, bukan berarti semua permasalahan perempuan
selesai, buktinya walaupun ada peningkatan-peningkatan siknifikan di dalam
politik ataupun pemerintah dengan keterlibatan perempuan, walaupun itu belum
cukup tapi angka kekerasan dalam berumahtangga tetap saja terjadi, sehingga
kekerasan dalam berumahtangga ini memang perlu di kelompokkan atau di
segmentasikan, mungkin ke dalam tiga bagian, artinya bagaimana sosialisasi
kekerasan dalam berumahtangga di level perempuan yang mempunyai high income itu beda dengan perempuan
yang mempunyai masalah ekonomi, memang ini yang harus menjadi konsep kita
bersama mungkin untuk high class, professional
atau executive. Bagaimana
perempuan-perempuan ini bisa diskusi bersama, curhat bersama untuk
mendiskusikan hal-hal yang terjadi di dalam berumahtangga.
Dikelompok
menengahpun demikian, namun mungkin lebih diarahkan pendidikan dan begitu pula
dengan kelompok yang dialami kesulitan ekonomi. Mungkin hari Kartini tahun 2006
ini membawakan saya menjadi lebih sadar,
bahwa pada akhirnya perempuan tidak harus meninggalkan pekerjaan domestiknya,
namun tetap bisa berkarya dan berpartisipasi, disini kita memerlukan figur
laki-laki yang juga mempunyai perspektif gender
dan bisa mengganggap bahwa perempuan bukan saingannya, perempuan bukan figur
yang akan mendominasi tetapi perempuan adalah mitra yang kalau dalam
hubungannya dapat harmonis, sinerjik dan berpengertian, maka fungsi-fungsi
daripada unit terkecil yaitu “Keluarga”, ini bisa diselaraskan dan akhirnya
kita membangun Indonesia menjadi lebih baik.
Selamat Hari Kartini
AS
salut aja buat Angie
Posted by: ade | July 17, 2006 at 11:52 AM
Sebelumnya kami mohon maaf bila komentar pertama kurang berkenan dihati ( disensor ya ? ), maklum rakyat biasa alias ndeso dan udik. Kami juga prihatin atas aset daerah specially kain batik.
Posted by: Empati | May 26, 2006 at 04:42 AM
Angkat topi untuk menjadikan batik sebagai "benar-benar" menjadi aset bangsa. Kalau boleh tahu berapa persen dari keseluruhan model batik yang melayang keluar menjadi milik negara lain ? apakah mungkin ditarik kembali ? Ngomong-Ngomong Batik dan Orangutan ada persamaan, yaitu dominan warna coklat ....ha...ha...ha
Salam
Posted by: Empati | May 25, 2006 at 04:17 AM
salut sama mba'! disela2 kesibukan masih sempet nge-blog. dan setuju banget klo segala sesuatu itu kuncinya adalah KOMUNIKASI. semangat terus yah..
Posted by: inke | May 20, 2006 at 04:36 PM
Angie,,,harapan saya hanya satu,,,perempuan2 Indonesia bisa menghargai dirinya sendiri.
Posted by: Rachel | May 16, 2006 at 07:54 AM
Ibu Angelina,
Saya banyak mengamati bahwa wanita Indonesia kita telah tersusupi dengan modernitas dan kebebasan yang melampaui batas. Mungkin ibu juga bisa merasakan hal tersebut, dimana sekarang wanita kurang bisa menempatkan dan memposisikan dirinya. Padahal wanita itu adalah benteng pertahanan yang dihandalkan untuk menghasilkan pribadi-pribadi yang tangguh, kayaknya semua itu telah terdegradasi seiring dengan kemajuan zaman dan waktu yang membuat kita tidak sadarkan diri terkadang. Ibu, tidak sedikit kita dapati disurat kabar, majalah ataupun tabloid bahwa ada wanita-wanita yang berselingkuh dari suaminya, tidak peduli terhadap keluarganya, terlalu sibuk dengan urusannya. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, yang ada hanyalah penyesalan dan sesal itu tentunya tidak akan membuat apa yang telah terjadi itu akan bisa tergantikan. Ibu yang saya hormati, rasanya setiap tahun kita memperingati hari Kartini namun semangat dan cita-cita yang beliau ajarkan belumlah menancap dan tertanam didada setiap wanita Indonesia. Rasanya ini menjadi sebagian tugas dari ibu yang lebih dikenal dimasyarakat walaupun seharusnya kita semua menyadari akan hal ini.
Ibu tetaplah terbang dan mengepakkan sayap-sayapmu, jangan pernah sekalipun berhenti untuk berjuang karena banyak orang yang menaruh harapan padamu. Selamat bertugas Ibu Angie.
Reno Afrian
Posted by: Reno Afrian | May 11, 2006 at 08:40 AM
Kapan anggaran pendidikan 20% dari APBN?
Posted by: Arya | May 09, 2006 at 11:27 AM
Mbak Anggie,
Sering-sering turun ke lapangan, terutama untuk meneliti masalah yg amat sangat mendesak, kayak sekolah2 yg hampir rubuh itu lho......., jangan sampai mandek di hasil laporan saja.
Posted by: Chimot | May 09, 2006 at 03:01 AM
angie....
tdk ada sedikit pun niat mengguruimu. tapi mungkin ada baiknya kamu simak kata2 saya ini:
Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau
dunia menjadi lebih baik.
Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal atau
seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan
saatnya kita lebih baik bersama yang lain.
Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian
untuk melepaskannya...
bagaimanapun... saya ingin melihat kamu bersama dg adjie... u know what i mean? together in a happily-everafter-marriage...
God bless u
Posted by: Adis | May 08, 2006 at 12:54 PM