Rasuna Said 2 Febuari 2007
Cuaca cerah sewaktu saya dan teman-teman dari WOMAN
(Women’s act for Humanity & Environment ) serta Anissa Pohan memberikan
bantuan di 2 lokasi yang terkena bencana banjir. Dengan mengendarai beberapa motor, mobil serta truk
berisi bahan sembako, pakaian, obat-obatan serta kebutuhan balita yang
merupakan bantuan dari Ibu Ani SBY, kami berjalan beriringan. Sasaran pertama kami adalah daerah diseputar Jakarta
Timur, tepatnya di Cipinang Bali yang mengalami kebanjiran cukup parah. Meskipun disana pada saat kami datang, air sudah mulai
surut, tetapi masih banyak warga yang harus meninggalkan rumahnya sehingga
bantuan bahan pokok makanan, masih sangat diperlukan. Sebagian dari isi truk kami turunkan di posko yang
merangkap dapur umum milik salah satu warga yang tidak tergenang air.
Pada tengah hari saya dan rombongan bergerak lagi
menuju daerah Bekasi, tepatnya di desa Srimukti-Babelan, Tambun Utara-Bekasi
Timur. Meskipun untuk mencapai daerah sasaran, kami memerlukan perjuangan yang
berat dengan jarak tempuh yang panjang, dan kondisi jalan yang rusak parah,
akhirnya sekitar pukul 1 siang kami sampai di tempat yang kami tuju. Daerah ke
2 yang kami tuju ini memang termasuk daerah terpencil, tidak mudah dijangkau
karena untuk sampai kesana kami harus menggunakan perahu karet.
Panas matahari yang menyengat kulit, rasanya tidak
sebanding dengan derita para korban banjir yang sudah berhari-hari terkurung
air.
Sebagian besar penduduk disana adalah petani. Sejauh
mata memandang seharusnya kita menjumpai warna hijau dan padi yang menguning,
tapi kini semua tergantikan dengan warna coklat keruh campuran air dan lumpur. Harus
extra hati-hati untuk menapaki jalan yang lebarnya tidak seberapa yang memisahkan sawah karena terendam air.

Dengan bantuan beberapa penduduk kampung setempat kami
menaiki perahu karet untuk menjangkau kampung sebelah. Waktu yang diperlukan
untuk perjalanan dengan perahu karet kurang lebih 45 menit. Antara haru dan bahagia ketika sampai disana. Bahagia
karena mereka sangat antusias dengan kedatangan kami yang mendadak, haru ketika
melihat kondisi mereka saat ini. Terlihat betapa kuat mereka, meskipun raut
muka mereka kelihatan letih tapi mereka masih bisa tertawa dan bercanda. Entah
karena mereka sudah terbiasa dengan bencana atau karena kepasrahan mereka pada
Yang Kuasa. Tangan-tangan mereka saling berebutan untuk hanya
sekedar menjabat tangan kami, padahal apa yang kami berikan tidak sebanding
dengan derita mereka yang berkepanjangan.
Tidak sedikit ibu-ibu yang menangis dengan kedatangan
kami, mungkin mereka merasa lega bahwa masih ada yang peduli dengan mereka. Saya
jadi merasa sangat berarti walaupun bantuan yang kami beri tidak seberapa, tapi
dari ketulusan dan keikhlasan kami mudah-mudahan kami bisa sedikit mengurangi
beban hidup mereka sementara, karena setelah bencana banjir ini teratasi masih
banyak lagi yang harus mereka hadapi untuk menata kembali kehidupan mereka
selama ini.
Semoga bencana yang melanda di negeri kita cepat
berakhir seiring dengan doa-doa yang selalu kita panjatkan kepada Yang Maha
Kuasa……amin…..
AS