Cuaca saat itu sangat mendukung untuk melakukan kegiatan di luar ruangan. Panas tidak….mendung pun juga tidak. Ya… hari itu saya ada sedikit acara yang merupakan hobby saya sejak lama…dipotret !!!
Asyik juga nih… sudah lama saya tidak mendengar aba-aba ‘action’ ataupun hitungan ‘1..2…3… yak….’
Saya membuat janji dengan salah satu majalah ibukota yang hari itu melakukan wawancara dan pemotretan yang mengambil lokasi di Gedung Arsip Nasional di jalan Gajah Mada 111.
Sebetulnya jadwal pemotretan sudah sebulan yang lalu, tapi karena waktu itu Jakarta sedang dilanda bencana banjir, otomatis semua kegiatan jadi tertunda. Siang jam 11.15 wib saya tiba di lokasi dengan mengenakan kebaya modern warna coklat. Gedung Arsip Nasional merupakan bangunan tua peninggalan sejarah yang masih harus diperhatikan dan sayang sekali kalau tidak dirawat. Namanya juga gedung tua, barang-barangnya pun juga kuno dan berkesan berat. Di ruang depan sayap kanan ada lemari kaca yang berisi beberapa buku yang sampulnya sudah berwarna kuning kecoklatan saking lamanya. Lemari itu terkesan kosong karena cuma ada beberapa buku saja, sementara besar lemari hampir memenuhi luas salah satu sisi dinding. Juga terdapat meja marmer asli yang berwarna abu-abu….hmm..pasti sangat mahal. Sedangkan di sayap kiri terdapat meja kerja kuno yang masih mengkilat karena terwat, dasar dinding ruangan itu dikelilingi tegel keramik kecil-kecil yang bercorak yang tidak akan pernah kita temui dimanapun.
Udara sangat sejuk karena banyak jendela berukuran besar, mungkin besar jendela itu sebesar pintu rumah jaman sekarang.
Di halaman belakang yang berumput hijau tebal terdapat meriam kuno di sisi kanan dan kirinya. Editor dan fotographer beserta asistennya tampak sedang duduk di anak tangga menunggu kedatangan saya. Pemotretan pertama mengambil lokasi di halaman belakang yang berumput hijau tebal itu.
Hati saya langsung berdesir…ketika fotographer memberi aba-aba untuk bergaya, seolah ada sesuatu yang membuat saya begitu bebas, lepas, tanpa beban ketika satu demi satu gambar diambil. Mungkin karena ini hobby saya dan sayapun bebas mengexpresikan segala yang ada pada diri saya, dan hasilnya……mari kita tunggu tanggal terbitnya….he..he..he…
Pengambilan gambar pertama selesai, kami menuju ruangan kecil untuk mulai wawancara. Ditemani kipas angin di ruangan itu dan bangku seadanya, editor mulai menjalankan tugasnya untuk mewawancarai saya. Satu demi satu pertanyaan yang diajukan seputar carier dan keterlibatanku di panggung politik saya jawab dengan lancar. Kali ini pemotretan ke dua dilakukan di dalam ruangan, karena selain matahari makin menyengat juga untuk mencari suasana yang berbeda, dengan mengambil background benda-benda antik tentunya. Setelah dirasa cukup untuk mengambil gambar akhirnya selesai juga.
Matahari makin tinggi ketika semua kegiatan itu berkhir. Saat kami akan meninggalkan gedung terlihat ada beberapa kegiatan yang tengah berlangsung di gedung itu. Salah satunya pengambilan gambar untuk acara pra wedding. Memang sangat bagus nuansa bangunan tua itu untuk mendapatkan suasana tempo dulu. Kuno dan alami ….bukankah sekarang kita dan kebanyakan orang masih membutuhkan dan mencari hal-hal seperti itu ? Biar bagaimanapun sesuatu yang dianggap kuno suatu saat akan dicari dan dibutuhkan. Tinggal sekarang bagaimana kita bisa menjaga dan melestarikannya….
Pesan terakhir saya….kunjungilah Gedung Arsip Nasional yang merupakan goresan sejarah Bangsa Indonesia.
AS